Asal Tulis: #1 Surat Rindu dari Yogyakarta
Langkah kaki tak pernah terhenti. Cita-cita yang ada di depan mata, menjadi tujuan akan langkah kaki ini. Langkah kaki ini pula berusaha untuk melepaskan diri dari bayang-bayangmu. Tak tanggung-tanggung kaki ini melangkah sangat jauh. Namun, mengapa langkah kaki yang jauh ini tetap tidak membuatmu hilang dari pikiranku?
Jarak yang membentang di antara kita seakan tidak menjadi sebuah halangan. Rasa sakit hati yang dulu ada, seakan hilang dan bukan menjadi hal yang membuatku kecewa. Kamu pun juga pergi dengan jarak yang sangat jauh pula. Aku yang memulai sebuah jarak, kamu menyusul pula memberikan jarak yang lebih jauh lagi. Namun, mengapa sebuah jarak ini tidak menjadi sebuah penghalang bagi kita?
Setiap salah satu di antara kita menjauh, entah ada hal apa, kita justru menjadi dekat. Semakin berusaha jauh, semakin dekat. Jujur, aku tak mengerti mengapa ini justru terjadi. Ini tidak hanya sekali atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Seakan-akan ini menjadi tanda akan jalan takdir kita; jalan takdirku dan takdirmu. Aku tak tahu apakah ini hanya sebuah sugesti atau memang benar adanya. Bisakah kamu membantuku untuk menemukan ini sebuah sugesti atau benar adanya?
Sebenarnya apa yang terjadi di antara kita?
Pertanyaan ini selalu terlontar dalam batinku. Hal-hal yang seharusnya, kata orang-orang, bisa membuat kita jauh, justru mendekatkan kita. Kata orang, jarak bisa membuat kamu lupa akan kenangan atau seseorang yang telah menenyakitimu. Namun, hal ini tak terjadi padaku, mungkin padamu juga. Haruskah kita membuktikan diri kita dengan bertemu?
Mungkin sebuah pertemuan, obrolan, dan cerita tentang diri masing-masing dapat membuatku lebih yakin akan jalan yang harus aku ambil dan tindakan yang harus aku lakukan.
Bisakah kita membuat sebuah pertemuan untuk saling meyakinkan satu sama lain akan apa sebenarnya yang terjadi pada kita ini? Sehingga, nantinya kita akan mengerti langkah apa yang harus kita ambil. Selain memastikan hal ini, mungkin rindu yang menyesatkan dapat hilang seiring dengan pertemuan kita?
Ayo, tentukan pertemuan kita!
Jarak yang membentang di antara kita seakan tidak menjadi sebuah halangan. Rasa sakit hati yang dulu ada, seakan hilang dan bukan menjadi hal yang membuatku kecewa. Kamu pun juga pergi dengan jarak yang sangat jauh pula. Aku yang memulai sebuah jarak, kamu menyusul pula memberikan jarak yang lebih jauh lagi. Namun, mengapa sebuah jarak ini tidak menjadi sebuah penghalang bagi kita?
Setiap salah satu di antara kita menjauh, entah ada hal apa, kita justru menjadi dekat. Semakin berusaha jauh, semakin dekat. Jujur, aku tak mengerti mengapa ini justru terjadi. Ini tidak hanya sekali atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Seakan-akan ini menjadi tanda akan jalan takdir kita; jalan takdirku dan takdirmu. Aku tak tahu apakah ini hanya sebuah sugesti atau memang benar adanya. Bisakah kamu membantuku untuk menemukan ini sebuah sugesti atau benar adanya?
Sebenarnya apa yang terjadi di antara kita?
Pertanyaan ini selalu terlontar dalam batinku. Hal-hal yang seharusnya, kata orang-orang, bisa membuat kita jauh, justru mendekatkan kita. Kata orang, jarak bisa membuat kamu lupa akan kenangan atau seseorang yang telah menenyakitimu. Namun, hal ini tak terjadi padaku, mungkin padamu juga. Haruskah kita membuktikan diri kita dengan bertemu?
Mungkin sebuah pertemuan, obrolan, dan cerita tentang diri masing-masing dapat membuatku lebih yakin akan jalan yang harus aku ambil dan tindakan yang harus aku lakukan.
Bisakah kita membuat sebuah pertemuan untuk saling meyakinkan satu sama lain akan apa sebenarnya yang terjadi pada kita ini? Sehingga, nantinya kita akan mengerti langkah apa yang harus kita ambil. Selain memastikan hal ini, mungkin rindu yang menyesatkan dapat hilang seiring dengan pertemuan kita?
Ayo, tentukan pertemuan kita!
Yogyakarta,
25 Oktober 2016
Komentar
Posting Komentar